Jalinan Garis Waktu Empat Penjuru
Pada masa awal dibukanya bentang alam wilayah ini, sejarah mencatat sebuah permukiman rintisan yang menjadi cikal bakal peradaban lokal. Tempat pertama yang dibuka oleh para leluhur dinamai Dusun Sambung. Wilayah ini berstatus sebagai dusun tabon atau ibu kota purba. Uniknya, dinamai "Sambung" karena seluruh penghuni awal dusun ini merupakan satu garis keturunan besar. Mereka hidup berdampingan tanpa sekat, di mana setiap warga saling memiliki hubungan kerabat dan ikatan darah. Dari jalinan persaudaraan yang saling sambung-menyambung dan tiada putus inilah, fondasi kemasyarakatan pertama kali diletakkan.
Seiring berjalannya waktu, wilayah tabon semakin padat, dan percabangan keluarga mulai meluas untuk mencari ruang hidup baru. Di bawah bimbingan seorang tokoh spiritual yang bijaksana dan luhur budinya, dibukalah pemukiman di sisi lain yang kemudian dikenal sebagai Dusun Kuwangsan. Tokoh agung tersebut bernama Mbah Kwang. Beliau menjadi sesepuh, paku bumi, sekaligus panutan utama yang mengajarkan tata krama, ilmu pertanian, dan spiritualitas kepada warga. Atas karomah dan jasa-jasanya, wilayah yang dibukanya dinamai Kuwangsan sebagai bentuk penghormatan atas jejak peninggalan Mbah Kwang, yang hingga kini makam sucinya masih dirawat dengan takzim di dusun tersebut.
Kemakmuran yang semakin berkembang menuntut adanya sebuah ruang publik yang adil untuk menyatukan seluruh warga. Di titik paling tengah, para sesepuh kemudian menyepakati sebuah tanah lapang luas sebagai tempat berpusatnya segala ritual adat, sedekah bumi, dan tolak bala. Di tempat inilah warga dari berbagai penjuru berkumpul untuk mengucap syukur sambil membawa ambeng—yaitu tumpeng besar lengkap dengan lauk-pauknya untuk dimakan bersama. Karena tradisi urunan ambeng desa ini dilakukan secara turun-temurun di pusat keramaian tersebut, wilayah di sekitar tanah lapang itu lambat laun tumbuh menjadi pemukiman padat yang dijuluki Dusun Kambengan, simbol dari semangat gotong-royong dan berkah kebersamaan.
Pertumbuhan sosial-budaya ini mengantarkan masyarakat menuju era kejayaan ekonomi. Tak jauh dari pusat keramaian adat, berkembanglah sebuah wilayah pemukiman besar yang menjadi pusat peradaban dan perdagangan yang sangat maju bernama Karang Sari. Dusun ini menjadi jantung perekonomian tempat bertemunya para saudagar. Namun, dinamika zaman membawa perubahan kreatif pada masyarakatnya. Selain berdagang, warga Karang Sari mulai beralih memproduksi industri rumahan tempe tradisional yang sangat mahsyur. Untuk memenuhi kebutuhan pembungkus alami, warga secara masif menanam pohon Andong di setiap jengkal pekarangan mereka. Pemandangan dusun yang menghijau oleh tanaman andong serta kesibukan warganya membuat orang-orang luar lebih akrab menyebut wilayah perdagangan ini sebagai Dusun Kandongan (tempatnya pohon dan pengrajin andong), menggeser nama lama Karang Sari.
Dari gerbang sejarah keempat dusun yang mandiri dan makmur inilah, sebuah peristiwa besar pada masa lampau menyatukan mereka dalam satu payung pemerintahan tunggal. Kisah ini bermula ketika Kerajaan Majapahit sedang dilanda masa paceklik dan krisis pangan yang hebat. Untuk menyelamatkan stabilitas kerajaan, sang raja mengirimkan dua orang utusan sakti untuk mengembara jauh ke pelosok negeri guna menghimpun bantuan ekonomi.
Langkah kaki kedua utusan Majapahit tersebut akhirnya sampai di wilayah subur yang mempertemukan empat dusun ini. Di tempat ini, mereka melakukan pemungutan dana, bahan pangan, serta upeti yang dipersembahkan khusus untuk menyelamatkan sang raja dan kerajaannya dari bencana kelaparan. Karena kerelaan, kekayaan hasil bumi, dan kedermawanan warga dari keempat dusun tersebut dalam menyokong kebutuhan raja, daerah ini kemudian dijuluki sebagai Dana Raja—yang berarti "Dana atau Persembahan untuk Raja".
Seiring bergulirnya waktu dan perubahan zaman, penyebutan istilah Dana Raja di lisan masyarakat perlahan menyesuaikan dengan asimilasi bahasa Jawa Kuno (Kawi) hingga bertransformasi menjadi Donorejo (Dono berarti dana/pemberian, dan Rejo berarti makmur/ramai). Maka, di atas tanah sejarah empat dusun yang legendaris itu—Dusun Sambung, Dusun Kuwangsan, Dusun Kambengan, dan Dusun Kandongan—secara resmi berdirilah sebuah desa yang kokoh, berdaulat, dan berkah bernama DESA DONOREJO.